"ambil" kata-Mu..
"jangan" kata-ku..
"tetapi harus Ku ambil" kata-Mu..
"jangan dulu deh" kata-ku..
"sudah tiba masanya, sayang" kata-Mu..
"ya.. ya.. aku tau, tetapi tolong jangan sekarang" kata-ku..
"tidak bisa!" ucap-Mu tegas menggelegar..
"tolong jangaaannn" tangis-ku tumpah..
Penggalan percakapan dengan entah siapa, diantara sadar dan tidak, pada suatu malam ketika Asmaul Husna mendayu dibibir dan terdengar menghanyutkan ditelinga.. Malam sebelum berita pagi yang tidak biasa, yang membuat sekujur tubuh lemas lunglai, yang membuat darah dari ubun-ubun terhempas hingga ke ujung kaki.
Iya, ternyata ini benar-benar terjadi. Dia datang mengambil salah satu orang paling penting dalam langkah kehidupan-ku. Memang sudah waktunya. Memang sudah tiba masanya. Wajah tangguh artifisial itu memang tidak lagi kuat menahan sakitnya, yang terdengar kemudian hanya rintihan perih seorang renta, mencoba memendam sakitnya hanya untuk menyatakan kepada dunia bahwa "Aku tidak sakit!! Aku sehat-sehat saja!!".
Memang seperti itulah sosok Opung dimata-ku. Lelaki berumur hampir 76 tahun (jika Dia masih memberikan kesempatan menghirup udara milik-Nya) itu selalu saja menyimpan sendiri rasa sakit yang dideritanya, hingga hari itu tiba.
25 Juli 2007, pukul 08.20 wib, di salah satu Ruang Intensive Care Critical Unit Rumah Sakit Awal Bros Batam, terlihat raga terbaring kaku, mata memejam tenang, senyum samar terukir, (mungkin) roh-nya masih memandangi kami yang mengelilinginya sambil menyenandungkan lafal merdu Kalimah Syahadat dan Surah Yassin khusus untuknya.
Tidak boleh ada tangisan, seperti pesannya suatu ketika dulu, saat ia menggenggam jemari kecil-ku. Yaa Aku tidak boleh menangis, bukan karena apa, tetapi karena yang hidup akan pergi menuju tempat paling tenang disisi-Nya.
…
Ada satu hal yang belum sempat kulakukan untuknya, hal kecil yang sangat menyenangkan kami. Memotong kuku kakinya merupakan salah satu kegiatan seru untukku sejak dulu. Sambil memotong kukunya, dia bercerita berbagai macam hal kepadaku, menceritakan kisah-kasihnya dengan nenekku dulu hihihihihi bertemu malu-malu dibawah pohon diatas jembatan. Mirip film India kataku, "memang begitulah orang berkasih-kasih-an waktu dulu!" jawabnya sambil tersenyum. Dan kemudian setiap kali selesai memotong kukunya, sebungkus coklat wafer kesukaan kami tersedia khusus untukku (meski akhirnya kubagi sedikit untuknya hehehe).
Ahhh.. kini, tidak ada lagi Opung dengan suara lembutnya menasehatiku. Tidak ada lagi lelaki rapi-necis itu.
"Opung.. ayuk rindu opung nih"
:: ohh iya, banyak orang bertanya, mengapa ‘Opung’? entahlah.. panggilan itu begitu lekat kepada kami cucu-cucunya, padahal kami bukan berasal dari sana.